Dalam prolog buku menarik the Black Swan karangan Nassim Taleb, kita diingatkan bahwa “mistreated heroes” bukan hanya cerita tentang para “poetes maudits” seperti Edgar Allan Poe (atau mungkin Tan Malaka dalam kasus Indonesia) yang pada suatu waktu dikutuk oleh masyarakat lalu kemudian dipuja puji pada waktu yang lain seiring dengan perubahan arus sejarah. Mistreated heroes, Taleb menulis, lebih sering terjadi pada mereka yang berjasa membantu kita terhindar dari bencana. Para pencegah bencana biasanya jauh dari hiruk pikuk, seringkali tanpa meninggalkan jejak, dan betapa kontribusi besarnya jarang disadari. Ya, kita lebih menghargai para martir yang mati karena suatu “alasan” ketimbang mereka yang hidup untuk mencegah “alasan” itu terjadi. Everybody knows that we need more prevention than treatment, but only few that reward acts of prevention.
Bencana, masalah, peristiwa besar dalam sejarah, memang umumnya bersifat retrospective, hanya dapat dianalisis setelah peristiwa itu terjadi; ia terdistribusikan di luar mediasi kenormalan dalam pengamatan acak. That causes our biased-ingratitude toward those silent heroes.
Agar lebih jelas, saya menyadur bebas sebuah ilustrasi ekstrim Taleb dalam bukunya (just a thought experiment). Anggap ada seorang legislator dengan visi dan penglihatan yang luar biasa yang somehow pada tanggal 9/10 2001 berhasil memberlakukan peraturan yang berlaku universal di mana setiap pesawat harus dilengkapi kokpit anti peluru untuk mencegah serangan teroris menggunakan pesawat penumpang komersil. Pastinya peraturan ini akan tidak populer karena merepotkan pihak airlines. It also sounds lunatic, anyway. Namun di sisi lain, peraturan ini pastinya akan mencegah terjadinya peristiwa 9/11. Tapi justru karena peristiwa 9/11 ini tidak terjadi, si legislator akan mendapat caci maki, protes, dan sangat mungkin akhirnya terlempar dari jabatannya. Vox clamantis in deserto. Nisannya kelak tidak akan dihiasi tulisan: “Mr. X, the one who helped avoid the disaster of 9/11”…lol..
Contoh lain, di dalam buku tersebut terlontar kalimat-kalimat menarik, “who gets rewarded, the central banker who avoids a recession or the one who comes to “correct” his predecessors’ fault and happens to be there during some economic recovery?”Atau, “ Who will be remembered the most in history, the politician who avoids a war or the one who starts a new one (and lucky enough to win)?”
Sri Mulyani dan Boediono, pada masa kritis dalam periode yang pendek, telah mampu mengambil keputusan berani dengan cepat, sigap dan tepat untuk menstabilkan sistem keuangan dari potensi terjadinya krisis. Bakal krisis atau tidak, sistemik atau tidak, selamanya cuma akan jadi hipotesis. Kita hanya tahu dengan pasti, bahwa Fakta dan Logika Sekuensial yang ada mengatakan bahwa krisis keuangan tidak tejadi di Indonesia setelah stabilisasi sistem keuangan (yang dilakukan antara lain) dengan penyelamatan Bank Century, at the heart of global financial headwinds. Memang korelasi sekuensial tidak selamanya bermakna kausalitas, itulah sebabnya kita membutuhkan pegangan keilmuan dan pengalaman empiris dari negara lain. Kita lalu tahu bahwa parameter kualitatif “psikologi pasar/market sentiment/contagious effect on extraordinary situation” yang dipermasalahkan itu eksis dalam literatur behavioral finance dan telah menjadi pegangan pengambilan kebijakan di banyak negara. Buku putih tentang kasus Century telah digelar dan beragam analisa cost-benefit dan justifikasi serta data yang lebih mendalam ada di dalamnya. Silakan baca dan interpretasi sendiri. Saya sendiri sudah baca dan percaya langkah bail out bukanlah tindakan merugikan Negara, tapi justru langkah jenius penyelamatan system keuangan dengan biaya yang minimal yang harus diapresiasi, baik itu dipandang dari cost-benefit sederhana (uang LPS yang akan keluar) maupun dari analisis yang lebih komprehensif.
Saya hanya khawatir bahwa fitur retrospective dari potensi krisis yang ada di masa lalu telah mendorong kita untuk bertindak tidak tepat dan tidak adil. Saya juga khawatir bahwa energi dan waktu kita lebih banyak tersita hanya untuk episode keputusan bail out sementara ada banyak episode-episode lain di dalam drama ini yang lebih membutuhkan perhatian karena di sana lah maling-maling sesungguhnya berada. Nampaknya Ibu SM dan Pak Boed telah menjadi contoh terkini dari mistreated heroes di Negara kita.
Saya berdoa agar Ibu SM dan Pak Boed (dua cahaya yang tersisa dari kegelapan labirin terowongan pemerintahan) selalu sabar dan sehat menjalankan tugas. Semoga lebih banyak “acts of prevention” yang dilakukan keduanya, seperti sudah banyak dilakukan di masa lalu khususnya dalam aspek pencegahan krisis dan pembenahan governance namun memang luput dari hingar bingar. Kita harus jernih dan adil dalam melihat suatu persoalan.