First of all, Selamat Jalan Pak Harto. Turut mendoakan semoga tenang di sisi-Nya.
Hari-hari ini media ramai berkontroversi mengenai sosok satu ini. Posting kali ini cuma ingin mencoba memberikan perspektif lain mengenai Pak harto dan apa yg diistilahkan banyak orang sekarang sebagai: “jasa-jasa Pak Harto”.
Dalam literatur ekonomi-politik, Mancur Olson pernah bilang: seorang tiran akan cenderung/punya insentif untuk menciptakan kesejahteraan dan melaksanakan pembangunan di negeri yang dikuasainya, dengan alasan:
1. He wants to be in power long enough, and some degree of economic success would assure it. Persis seperti Pak Harto kan, pilar kestabilan pemerintahannya adalah kemajuan ekonomi. Reasoning dari insentif ini cukup jelas: Semakin lama berkuasa, semakin banyak yang bisa diambil. Pemerintahan Pak Harto bukan pemerintahan anarki: yg behaviornya melulu steal and destroy. Kalau negerinya ancur, gak ada apa2 yang tersisa untuk diambil.
2. Everybody prefers to take a slice of a BIGGER pie, not the smaller one. Kue ekonomi yang lebih besar tentu lebih menggiurkan daripada kue ekonomi yang kecil, compang camping pula. Here too lies more incentive to make “the occupied country” as prosperous as possible.
Gw cuma pengen bilang, kita jangan sampai silau oleh apa yang diistilahkan sebagai: “jasa-jasa pak harto”, tapi harus melihat dari kacamata yang lebih komprehensif. 32 years in absolute power surely long enough for him to create many accomplishment. Kita tetap tidak boleh lupa ada penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan secara sistemik, yang mengakibatkan bukan hanya kejahatan ekonomi, tapi juga kejahatan kemanusiaan dengan korban nyawa manusia.
Saat ini di Indo banyak yg manfaatin situasi berkabung dengan menonjolkan jasa-jasa pak harto, meski kayaknya mereka cuma lagi mikirin keselamatan mereka sendiri dari jeratan perdata kasus2 turunan pak harto.
Apapun, yang penting kita harus jujur sama sejarah. Pak Harto bukan warga negara biasa yang menurut tradisi masyarakat indonesia, selayaknya “dimaafkan” setelah tiada. Banyak hal yang konsekuensinya bisa terus membekas sampai bergenerasi- generasi. Kita gak boleh mengulang kesalahan yg sama di masa depan, makanya semuanya gak boleh dilupakan. Terang dan gelap, baik dan buruk, mari dibuka apa adanya untuk pelajaran bagi anak cucu.